Feodalisme (Antara Adab dan Pengkerdilan)
Hai Sobat Cozterizer🙋
Duh sudah lama tidak berjumpa yak,kangen bgt gw ama lu pada.
Buset akhir-akhir ini negara rame bener yak udh kaya bubaran pabrik.
Ada satu keramaian yang sangat mengganggu akhir-akhir ini khususnya di dunia kepesantrenan dan kesantrian.Ya,Feodalisme.
Feodalisme tuh apasih paustad?
coba kita kulik yok,duduk lu pada sini melingkar!
Dalam dunia pesantren, hubungan antara guru (kiai) dan santri seringkali diwarnai dengan penghormatan yang sangat tinggi. Salah satu fenomena yang masih ditemukan di beberapa pesantren tradisional adalah santri harus berjalan jongkok atau menunduk ketika melewati guru.
Bagi sebagian orang, hal ini dianggap sebagai bentuk adab dan penghormatan terhadap ilmu. Namun, di sisi lain, ada juga yang mengkritiknya sebagai warisan budaya feodal yang tidak relevan dengan semangat kesetaraan manusia.
Lalu, manakah yang benar? Apakah fenomena ini termasuk feodalisme, atau justru adab yang luhur?
1. Memahami Makna Feodalisme
Secara historis, feodalisme adalah sistem sosial, politik, dan ekonomi yang berkembang di Eropa pada Abad Pertengahan. Dalam sistem ini:
Kekuasaan ditentukan oleh kepemilikan tanah,Rakyat (petani) harus tunduk kepada tuan tanah,Struktur sosial sangat hierarkis dan tertutup,Kehormatan atau hak seseorang ditentukan oleh status dan keturunan, bukan kemampuan atau moralitas.
Feodalisme kemudian menjadi istilah yang lebih luas untuk menggambarkan pola hubungan sosial yang menindas dan tidak setara, di mana pihak bawah merasa harus tunduk mutlak kepada pihak atas tanpa ruang untuk dialog atau kritik.
2. Feodalisme dalam Konteks Budaya dan Pendidikan
Dalam konteks budaya modern, istilah feodalisme sering dipakai secara kiasan untuk menunjukkan:
“sikap tunduk berlebihan terhadap orang yang dianggap lebih tinggi derajatnya, sehingga meniadakan kesetaraan manusia.”
Dalam lingkungan pendidikan, bentuk feodalisme kultural bisa muncul ketika:
1. Murid tidak berani menyampaikan pendapat karena takut “melawan guru”,
2. Guru dianggap “selalu benar”,
3.Relasi antara guru dan murid lebih bersifat otoritatif daripada edukatif.
Jika hubungan seperti ini dibiarkan, pendidikan kehilangan esensinya — yaitu mencerdaskan manusia agar berpikir kritis dan merdeka dalam sikap.
3. Adab dalam Tradisi Islam
Berbeda dengan konsep feodalisme, Islam sangat menekankan adab (etika) terhadap guru.
Beberapa ulama mengatakan:
“Adab lebih tinggi daripada ilmu.”
Dalam tradisi Islam, menghormati guru bukan karena status sosialnya, tetapi karena ilmunya yang menjadi wasilah (perantara) menuju Allah.Bentuk penghormatan ini bisa berupa:
1. Tidak memotong ucapan guru,
2. Menyimak dengan tenang,
3. Berbicara dengan sopan,
4. Bahkan menundukkan kepala atau tubuh sebagai simbol kerendahan hati (tawadhu’).
Jadi, dalam pandangan Islam, sikap hormat kepada guru adalah manifestasi cinta terhadap ilmu, bukan bentuk perbudakan atau ketundukan sosial.
4. Jalan Jongkok: Antara Adab dan Feodalisme
Nah, di sinilah persoalan muncul.Apakah jalan jongkok di depan guru termasuk adab atau feodalisme?
Jawabannya tergantung pada niat, konteks, dan pemaknaan di balik perilaku itu.
✅ Jika didasari oleh adab:
Santri melakukannya dengan kesadaran bahwa ia sedang menghormati ilmu, bukan karena takut dihukum.Tidak ada unsur pemaksaan atau aturan formal yang mengikat.Guru tetap rendah hati dan tidak merasa “lebih tinggi” dari santri.
👉 Maka perbuatan itu termasuk tawadhu’ dan tidak bisa dikategorikan sebagai feodalisme.
❌ Namun jika dilakukan dalam konteks feodal:
Santri dipaksa atau ditekan untuk tunduk, seolah guru adalah “raja” yang tak boleh disejajarkan.Guru menikmati penghormatan itu dan menuntut perlakuan istimewa.Santri kehilangan rasa percaya diri dan kemandirian berpikir.
👉 Maka fenomena itu berubah menjadi feodalisme kultural, yang bertentangan dengan semangat pendidikan Islam yang humanis.
5. Membaca Fenomena Ini Secara Kritis
Fenomena santri jalan jongkok sebaiknya tidak langsung disalahkan, tapi dibaca secara kontekstual:
Jika dilakukan di pesantren tradisional sebagai simbol adab turun-temurun, maka maknanya lebih spiritual.Tetapi jika dijadikan aturan kaku yang membungkam santri, maka perlu revisi dan refleksi.Pesantren sebagai lembaga pendidikan seharusnya menjadi tempat mendidik manusia berilmu, beradab, dan merdeka, bukan sekadar tempat melestarikan struktur hierarki sosial lama.
6. Kesimpulan
Fenomena santri harus jalan jongkok di depan guru tidak otomatis termasuk feodalisme,tetapi bisa menjadi feodalistik bila lebih menonjolkan unsur ketundukan sosial daripada penghormatan spiritual.
Islam mengajarkan adab, bukan ketakutan.Menghormati guru tidak harus dengan merendahkan diri secara fisik, tapi dengan menjaga akhlak, kesopanan, dan semangat mencari ilmu.Pendidikan sejati bukan menumbuhkan murid yang tunduk tanpa suara,melainkan santri yang hormat tapi tetap berpikir, berdialog, dan berani menjadi insan merdeka.
Tapi kenapa giliran diangkat isu banyak pelecehan seksual di pesantren,kasus pembullyan yang cukup merajalela bahkan ada kasus pembunuhan juga jd pada diem yak?
Apa kabar tuh petinggi ormas bisa akrab bgt nemuin zionis,mentri agama korupsi dana haji sama quran?
Masih istiqomah juga kan lu pada sholawatan ada joget-jogetnya?
Padahal para sahabat dlu ketika duduk berkumpul ama Rosulullah mereka tenang sampai digambarkan seakan-akan ada burung yang hinggap di kepala mereka?
Kaga malu lu pada?
Komentar
Posting Komentar