Benarkah Kita Kalah oleh Takdir?

Hai sobat cozterizer🙋‍♂️
Waktu larut malam sepertinya emang waktu yang tepat bagi orang-orang yang merasa kalah dalam takdirnya.

Pun gw juga sering overthingking,merenung,bahkan meratapi kekalahan demi kekalahan yang gw alami di hidup ini.Dan hal ini kembali terjadi sebelum akhirnya gw menulis blog ini.

Ditengah-tengah lamunan ini gw coba buka lg kitab Shahih Muslim di tablet gw dan menemukan sebuah hadist yg cukup membuat hati ini mulai terbuka.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ď·ş bersabda:
“Pada hari kiamat akan didatangkan orang yang paling sengsara hidupnya di dunia namun ia termasuk penghuni surga. Maka ia dicelupkan ke dalam surga sekali celupan saja. Kemudian dikatakan kepadanya:
‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah melihat kesengsaraan? Apakah engkau pernah merasakan penderitaan?’
Ia menjawab:
‘Tidak, demi Allah wahai Rabbku, aku tidak pernah melihat kesengsaraan sedikit pun dan tidak pernah merasakan penderitaan sama sekali.’
Dan didatangkan pula orang yang paling bahagia hidupnya di dunia namun ia termasuk penghuni neraka. Maka ia dicelupkan ke dalam neraka sekali celupan saja. Lalu dikatakan kepadanya:
‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah melihat kebahagiaan? Apakah engkau pernah merasakan kenikmatan?’
Ia menjawab:
‘Tidak, demi Allah wahai Rabbku, aku tidak pernah melihat kebahagiaan sedikit pun dan tidak pernah merasakan kenikmatan sama sekali.’”
đź“– HR. Muslim no. 2807

Setelah membaca hadist ini gw berfikir Ada masa ketika hidup terasa seperti medan yang terlalu berat untuk dimenangkan.
Usaha sudah maksimal. Doa sudah lama dipanjatkan. Air mata sudah berkali-kali jatuh diam-diam. Tapi keadaan tak juga berubah.

Lalu kita bertanya dalam hati:
Apakah gw kalah sama takdir?

Padahal, sejak kapan takdir adalah lawan?

Dalam hadist td gw coba membayangkan.
Seluruh luka, seluruh tekanan, seluruh rasa tertinggal, seluruh malam panjang penuh cemas bisa hilang begitu saja hanya dengan satu sentuhan kenikmatan akhirat.

Hadis itu bukan sekadar cerita tentang akhir zaman. Itu adalah cara Allah mengubah cara kita memandang hidup.

Kesusahan dunia bukan bukti kekalahan.
Kesempitan bukan tanda ditinggalkan.
Lambatnya pertolongan bukan berarti doa ditolak.
Kita sering mengira kalah itu ketika hidup tidak sesuai harapan.
Padahal yang benar-benar kalah adalah ketika hati berhenti percaya.

Takdir bukan musuh. Takdir adalah panggung ujian. Yang dinilai bukan seberapa mudah hidup kita, tapi seberapa kokoh kita bertahan tanpa kehilangan iman.

Mungkin hari ini kita merasa lelah.
Merasa tidak dipilih.
Merasa selalu jadi yang tertinggal.
Tapi bisa jadi, di sisi Allah, kita sedang dikumpulkan pahala yang bahkan gak kita sadari. 

Bisa jadi, setiap sabar yang kita paksa, setiap kecewa yang kita tahan, setiap doa yang kita ulang meski belum terkabul semuanya sedang menumpuk menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari yang kita bayangkan.

Di dunia, kita menghitung dengan waktu.
Di akhirat, Allah menghitung dengan keabadian.
Kalau hidup terasa tidak adil, mungkin karena kita masih melihatnya dari sisi yang terlalu pendek.

Jadi, benarkah kita kalah oleh takdir?
Atau sebenarnya kita sedang dipersiapkan untuk kemenangan yang belum waktunya ditampakkan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Dunia Makin Jahat Ya?

Feodalisme (Antara Adab dan Pengkerdilan)