If I Had the Choice Before Birth

Hai sobat cozterizer🙋‍♂️
Gmn masih kuat puasanya?
Semoga belum ada yg surrend yak.

Maaf kalau tilisan ini akan terdengar personal,tp gw pengen berbagi sedikit ke kalian.

Ada hari-hari ketika gw bertanya dalam hati: Jika sebelum lahir gw dikasih pilihan, apakah gw tetap memilih dunia ini?

Gw anak kedua dari tiga bersaudara. Satu-satunya laki-laki. Terdengar seperti posisi yang istimewa, bukan? Tapi kenyataannya, gw sering merasa seperti figuran dalam cerita keluarga sendiri.

Kakak gw tumbuh dengan segala yang terlihat lebih dulu sempurna. Ia seperti versi “berhasil” yang selalu bisa dibanggakan. Sementara gw? Gw tumbuh dalam keadaan yang serba pas-pasan. Perhatian tak pernah benar-benar menjadi punya gw. Mungkin karena hidup kami pernah mulus lalu terpuruk. Dan mungkin memang tidak cukup lapang untuk membagi perhatian secara adil. 

Dalam rumah yang sempit oleh ekonomi, kasih sayang kadang ikut terasa sempit.
Sebagai anak laki-laki satu-satunya, ekspektasi menempel seperti bayangan. Gw harus kuat. Gw harus berhasil. Gw harus menjadi penopang. Tapi tak pernah ada yang benar-benar bertanya: apakah gw siap?

Hari ini gw sudah menjadi suami. Gw membangun rumah tangga dengan cara terbaik yang gw mampu. Kami tidak sempurna, tapi kami saling menguatkan. Namun anehnya, di mata sebagian keluarga, gw tetap terlihat tidak cukup.

Ketika anak sakit, gw dianggap lalai.
Ketika istri terlihat kurus, gw dianggap gak becus mengurus keluarga.
Ketika ekonomi kami sedang turun, gw dianggap gagal.
Padahal rumah tangga kami baik-baik saja. Tidak mewah, tapi hangat. Tidak berlimpah, tapi cukup. Kami tertawa, kami saling menjaga, kami saling memaafkan. Tapi penilaian orang sering kali lebih keras daripada kenyataan yang kami jalani.

Trs gw membayangkan sesuatu yang lebih jauh.
Bagaimana jika sebelum lahir, Tuhan sudah memperlihatkan ke gw seluruh alur hidup gw?

Tentang menjadi anak kedua yang sering dibandingkan.
Tentang merasa kurang diperhatikan.
Tentang berjuang membuktikan diri.
Tentang menjadi suami yang terus diuji.
Tentang malam-malam ketika gw merasa sendirian meski tidak sendiri.

Dan dalam bayangan itu, gw diberi pilihan:
“Apakah gw tetap ingin dilahirkan?”

Pertanyaannya bukan lagi tentang penderitaan.Tapi tentang alasan untuk bertahan.

Mungkin saat itu gw melihat sesuatu yang lebih besar daripada rasa sakit.
Mungkin gw melihat senyum istri yang tulus.
Mungkin gw melihat anak memanggil gw buya dengan bangga.
Mungkin gw melihat diri gw yang, meski sering diremehkan, tetap memilih untuk tidak menjadi pahit.
Mungkin gw melihat kesempatan untuk menjadi laki-laki yang memutus rantai luka,bukan meneruskannya.

Barangkali yang membuat gw tetap memilih lahir bukan karena hidup ini mudah.Tapi karena hidup ini bermakna.

Karena di antara semua luka, selalu ada ruang untuk bertumbuh.
Di antara semua tudingan, selalu ada kesempatan untuk membuktikan dengan diam.Di antara semua perbandingan, selalu ada jalan untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri,bukan versi orang lain.

Kalau ebelum lahir gw benar-benar diperlihatkan semuanya, mungkin gw memang sempat ragu. Tapi gw rasa gw tetap akan memilih dunia ini.

Bukan untuk membuktikan pada mereka yang meragukan,
Bukan untuk memenangkan perbandingan.
Tapi untuk menjadi ayah yang hangat.
Menjadi suami yang setia.
Menjadi laki-laki yang tidak lari dari tanggung jawab.
Dan menjadi manusia yang, meski tidak selalu dipahami, tetap berusaha berbuat baik.

Mungkin, sejak dalam kandungan itu, yang membuatku yakin adalah satu hal sederhana:
bahwa gw tidak diciptakan untuk menjadi bayangan siapa pun.
Gw diciptakan untuk menjadi diri gw sendiri.

Dan itu sudah cukup menjadi alasan untuk tetap memilih dilahirkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Dunia Makin Jahat Ya?

Benarkah Kita Kalah oleh Takdir?

Feodalisme (Antara Adab dan Pengkerdilan)